Buat saya (dan banyak orang) selalu ada kesedihan yang mengiringi sebuah perpisahan. Brendan Rodgers dipecat setelah hasil kurang menghibur di partai derby Merseyside, akhir pekan lalu. Apakah situasi ini yang membuat saya sedih? Tidak sepenuhnya.

Saya lebih bersedih melihat reaksi sebelum pemecatan. Bagaimana banyak berseliweran di lini masa saya, teman sesama supporter banyak yang mengharapkan Liverpool FC meraih hasil buruk, demi dipecatnya Rodgers. Dan yang paling menyedihkan adalah pernyataan sebagian orang, yang menyebut bahwa hasil buruk musim lalu dan beberapa game awal musim ini, dikaitkan dengan urusan pribadi sang manager kala itu, yakni punya istri muda.

Adalah hak kita sebagai supporter, untuk meradang melihat klub yang kita sayangi tidak bisa meraih hasil maksimal, puasa gelar, dan turun level ke mediocrity. Tapi bagaimana kita mengekspresikan kekecewaan dan kemarahan tersebut, seyogyanya juga harus rasionil. Bukankah kita sendiri yang seringkali mendeklarasikan diri sebagai Best Behave Supporter In the Land ? Masih layak kah kita meneriakkan kalimat tersebut dalam sebuah chant, jika banyak dari kita yang belakangan ini mengharapkan klub meraih hasil buruk demi dipecatnya manajer yang dianggap sudah tak lagi bisa membawa klub menuju kejayaan?

Klopp4

Tidak tergabung dalam “golongan” supporter yang seperti itu, tidak menjadikan saya (kita, yang rasionil) sebagai yang paling Liverpool, yang paling Merah. Tapi setidaknya, menjaga dan konsisten pada jargon best behave supporter in the land. Dan sebisa mungkin mencoba menularkan nilai nilai tersebut kepada banyak pihak yang menurut saya terlalu mudah terbentuk opini, di era media sosial, khususnya twitter.

Sebutlah saya terlalu nostalgic, kuno, obsolete atau apapun istilah yang mewakili tidak kekiniannya saya dalam mengamalkan diri sebagai supporter Liverpool FC. Yang saya rasakan adalah perubahan cara beropini supporter di era media sosial ini dengan era ketika web-forum BIGREDS masih sangat efektif menjadi wadah, sekaligus media diskusi supporter Liverpool di Indonesia. Media web-forum memang mungkin sudah kuno, tidak kekinian. Tapi di sanalah, saya dan juga banyak kawan yang lain mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana mengungkapkan pendapat. Tidak harus dalam bentuk sebuah artikel panjang, dalam kalimat pendek pun, pendapat yang muncul saat itu, padat, rasionil. Saya bersyukur menjadi bagian dari periode tersebut.

Klopp5

Tapi, sudahlah, rasanya tidak perlu lagi berpanjang lebar menuturkan tentang bagaimana bernasnya pendapat yang beredar di forum BIGREDS kala itu saat menyikapi suatu kasus. Toh sekarang Rodgers sudah dipecat. Sebagian orang mungkin sudah merasa puas, keinginannya terkabul. Ucapkan terimakasih atas usaha maksimal Rodgers di 3 musim terakhir, dan lambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.

Sekarang ini marilah kita berharap, langkah yang dilakukan manajemen LFC untuk mencari pengganti Rodgers, dapat menyatukan kembali supporter yang satu musim lebih di beberapa pertandingan kemarin, sempat terbelah opininya. Dan yang lebih penting, semoga tidak ada lagi pendapat pendapat menyudutkan dan tidak rasionil, bergentayangan di lini masa sosial media.

Nama pelatih kenamaan dari Jerman, Jurgen Klopp sudah diumumkan secara resmi oleh Fenway Sports Group selaku pemilik klub, sebagai pengganti Rodgers. Langkah FSG tersebut menjadi langkah yang sangat popular dan memuaskan banyak pihak. Jika menilik pada pencapaian Jurgen Klopp selama menjadi manajer Borussia Dortmund, wajar jika kepuasan akan dimiliki banyak orang. Terlebih jika dibandingkan dengan CV Rodgers, saat direkrut LFC 3 musim lalu.

Namun dari sana, lagi-lagi saya mulai khawatir lini masa akan berisi opini-opini bermuatan negative lagi. Karena menurut saya, meski Klopp menukangi Liverpool FC, dia tidak akan secara instan membawa Liverpool menuju kejayaan lagi. Butuh proses. Dan sesuatu bernama proses ini lah yang kadang, sulit sekali diterima di era social media. Twitter saya akui, menjadi sarana efektif menyebarkan berita dan menuangkan pendapat, akan tetapi akses instan dan keterbatasan jumlah karakter dalam tiap post nya, sepertinya bagi banyak orang saat ini ikut berpengaruh dalam cara beropini. Banyak yang lalu juga jadi instan dalam beropini, termasuk didalamnya saat harus melihat sesuatu bernama proses tadi.

Sebelum itu terjadi, semoga beberapa paragraf berikut ini bisa menjadi pengendali, supaya nantinya kita semua lebih menghargai sesuatu bernama proses itu.

Meraih 2 gelar Bundesliga, 1 gelar DFB Pokal, 2 gelar DFL Super Cup dan sekali menjadi finalis (runner up) UCL bersama Dortmund, jelas suatu pencapaian yang mengesankan. Namun sekali lagi, raihan tersebut bukan sesuatu yang sekonyong-konyong datang secara instan. Kesemuanya melalui proses yang juga tidak mulus.

Menukangi mantan klub nya FSV Mainz 05 selama tujuh musim dari periode 2001-2008 . Klopp membawa Mainz promosi ke Bundesliga I untuk pertama kalinya dalam sejarah, dalam 2.5 musim kepemimpinannya (mirip dengan Rodgers bersama Swansea). Mainz juga dibawanya turut andil dalam kompetisi UEFA Cup musim 2005-2006, setelah mendapat kesempatan melalui jalur Fair Play. Selama mengarungi kompetisi di top flight division nya Jerman ini, Mainz di bawa Klopp menduduki papan tengah (11) selama dua musim, hingga akhirnya harus kembali lagi turun level ke Bundesliga II pada musim 2006-2007. Merasa bertanggung jawab sekaligus dipercaya manajemen, Klopp tetap menukangi Mainz di musim berikut. Untuk kemudian, karena gagal membawa promosi lagi, Jurgen mengundurkan diri dari tampuk jabatan pada akhir musim 2007-2008.

Alasan mengundurkan diri tersebut ternyata terungkap. Klopp menerima tawaran dari Dortmund.  Dua musim awal bersama Dortmund saya yakini menjadi periode pembangunan tim. Pada dua musim tersebut, Klopp hanya mampu membawa Dortmund menempati posisi 6 dan 5 klasemen Bundesliga (08/09, 09/10). Baru kemudian secara berturut turut pada musim 10/11 dan 11/12 menjadi kampiun Jerman.

Dalam prosesnya hal yang patut diberikan sorotan adalah, kejelian Klopp dalam mendatangkan dan mempromosikan pemain yang kemudian menjadi pilar De Borussen di musim mereka meraih juara. Nama-nama dari mulai Subotic,  Schemelzer, Hummels, Großkreutz, Bender, Gotze, Kagawa, Lewandowski, Gundogan, hingga Reus. Selain itu, penerapan filosofi sepakbola nya yang dikenal dengan gegenpressing membuahkan hasil manis untuk BVB

Jika pada saat Die Schwarzgelben meraih juara Bundesliga musim 2011/2012 sederet rekor terpecahkan, maka hal sebaliknya terjadi pada musim terakhir Klopp bersama BVB. Fall from grace, demikian headline banyak media saat itu. Bagaimana tidak, dari juara dua musim berturut-turut, penantang juara di dua musim berikutnya, harus sempat terdampar ke jurang degradasi di musim 2014/2015 meski akhirnya bisa selamat.

Serentetan persoalan dianggap menjadi pokok masalah penyebab pencapaian buruk Dortmund pada musim 2014/2015 lalu. Banyak media dan pengamat menyatakan bahwa perginya beberapa pilar utama tim (Kagawa, Sahin, Gotze, dan Lewandowski)  , lalu cedera pemain inti (Hummels, Großkreutz , Reus) menjadi penyebab utama merosot drastisnya performa Der BVB. Para pemain yang sedang cedera ini pun, dianggap hilang fokus ketika dalam masa penyembuhannya malah terlibat di beberapa acara non sepakbola. Masalah fitness para pemain menjadi issue lain penyebab runtuhnya kedigdayaan Dortmund, gegenpressing yang menuntut work ethic tinggi memakan korban yakni kelelahan pemain. Secara taktik, banyak juga yang menganggap skema dan filosofi sepakbola yang diusung Klopp sudah ditemukan penangkalnya oleh tim pesaing. Rentetan masalah yang berakibat pada raihan hasil buruk, menyebabkan masalah lain yakni, krisis percaya diri. Lengkap sudah materi untuk terjun bebas dari jawara menjadi tim yang pesakitan.

klopp7

Tanpa bermaksud melakukan pembelaan terhadap Brendan Rodgers yang sudah angkat koper, saya berani mengatakan bahwa proses dan perjalanan karir Klopp hampir serupa. Dari mulai bagaimana menyusun pondasi dan komposisi tim, menanamkan filosofi, menemukan pemain yang tepat, hingga terseok karena dipereteli dan dirundung cederanya pemain pilar nya. Bedanya, Klopp pernah merasakan juara dan bisa bersaing di level tertinggi Eropa. Sementara Rodgers, hanya hampir juara, dan terseok di Eropa. Dan mungkin, ini hanya mungkin, Rodgers terlalu keras kepala dengan “selisih pendapat” dengan transfer komite.

Runutan fakta dan perjalanan karir Jurgen Klopp diatas adalah penegasan bahwa dia bukan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun komplek Candi Prambanan dalam semalam. Bukan juga Baru Klinting yang membuat beberapa desa di Ambarawa tenggelam menjadi Rawa Pening, hanya dengan menancapkan lidi untuk kemudian dicabut menjadi mata air.

Jurgen Norbert Klopp, pria asal Stuttgart ini sudah didapuk menjadi bos di Melwood. Sekarang, mari kita sama-sama nikmati proses yang akan Klopp lakukan untuk menyembuhkan klub kesayangan kita yang memang sudah sakit kronis ini. Tetap bersabar menunggu hasil positif yang mungkin akan diraih dengan pengalaman dan kematangannya yang lebih dibandingkan Rodgers.

Klopp3

So we will have a new manager. No doubt the rumour mills will be going at ten to the dozen on who that will be but in some ways there is something deep down that will never change… the way any manager nowadays can be treated when their back is to the wall. Vultures circle with smiles and microphones whilst engaging gears that will lead to a knife somewhere in that very back. The tweets that once spoke of love will seep away and along will come the hashtags and planes!” – Harinder of RAWK

Text @Scaremonger; Editor: LB

Klopp3 klopp7 Klopp6 Klopp2 Klopp5 Klopp4 Klopp1

BIGREDS Official Portal Apps - Get it on Google Play

70-410    | 70-488    | 70-461    | MB5-705    | 200-120    | 70-486    | 70-411    | 70-480    | 70-346    | 70-462    | 70-347    | 70-412    | 70-483    | 70-417    | MB2-703    | 70-331    | 220-802    | C4040-252    | 1Z0-061    | 70-487    | 400-101    | CCD-410    | 100-101    | MB2-700    | 1Z0-060    | 70-463    | EX200    | C4040-250    | 300-115    | 640-554    | 70-533    | 70-532    | VCP550    | 1Z0-803    | 220-801    | 300-101    | 70-467    | 70-410 exam    | C4040-252 exam    | C4040-252 exam    | 70-483 exam    | mb2-703 exam    | C4040-252 exam    | C4040-252 exam    | 70-417 exam    | mb2-703 exam    | C4040-252 exam    | C4040-252 exam    | 200-120 exam    | 200-120 exam    | 220-802 exam    | 200-120 exam    | 70-417 exam    | 200-120 exam    | 70-331 exam    | 70-483 exam    | C4040-252 exam    | 200-120 exam    | 70-483 exam    | C4040-252 exam    | C4040-252 exam    | 70-412 exam    | mb2-703 exam    | 70-417 exam    | 200-120 exam    | mb2-703 exam    | 70-412 exam    | 70-483 exam    | C4040-252 exam    | 70-412 exam    | 220-802 exam    | 70-412 exam    | mb2-703 exam    | 70-417 exam    | 70-412 exam    | 70-483 exam    | 220-802 exam    | mb2-703 exam    | 70-331 exam    | 70-483 exam    | 70-483 exam    | 200-120 exam    | C4040-252 exam    | 70-417 exam    | mb2-703 exam    | 70-331 exam    | 220-802 exam    | 220-802 exam    | 200-120 exam    | 70-483 exam    | 70-483 exam    | 220-802 exam    | 70-412 exam    | C4040-252 exam    | 70-483 exam    | 200-120 exam    | 70-483 exam    | 70-412 exam    | 70-483 exam    | 70-412 exam    | 220-802 exam    | 200-120 exam    | 70-417 exam    | 70-483 exam    | C4040-252 exam    | 70-417 exam    | C4040-252 exam    | 70-461 exam    | 70-412 exam    | 070-410    | 70-410    | 70-488    | 70-461    | MB5-705    | 200-120    | 70-486    | 70-411    | 70-480    | 70-346    | 70-462    | 70-347    | 70-412    | 70-483    | 70-417    | MB2-703    | 70-331    | 220-802    | C4040-252    | C_TADM51_731    | 1Z0-061    | 70-487    | 400-101    | CCD-410    | 100-101    | MB2-700    | 1Z0-060    | 70-463    | EX200    | C4040-250    | 300-115    | 640-554    | 70-533    | 70-532    | VCP550    | 1Z0-803    | 220-801    | 300-101    | 70-467    | 70-486    | CCA-332    | 1Z0-567    | 70-412    | 70-465    | 9A0-127    | 050-699    | E22-189    | 70-347  | 70-688  | 70-336  | 70-484  | 210-455  | AND-401  |